AnekaNews.net


ANEKA TIPS INFORMASI DAN BERITA
Mon, 19 February 2018 - 20:41:36
Random News
Berita atau kabar tentang penemuan peninggalan masa lampau memang selalu menarik perhatian, setidak ... Read More »
Published: Sat, 24 Oct 2015 - 07:46:26
Category: Umum
By: Dyta
Hits: 1/2805
Comments: 0/0
MUNGKINKAH Kabut Asap Di Riau Akan Berlalu

MUNGKINKAH Kabut Asap Di Riau Akan Berlalu - AnekaNews.net

AnekaNews.net - Belakangan ini marak beredar ajakan yang berbunyi seperti di bawah ini;
Sediakan baskom air yang dicampur garam dan diletakkan diluar rumah, biarkan menguap, jam penguapan air yang baik adalah sekitar pukul 11.00 s.d jam 13.00, dengan makin banyak uap air di udara semakin mempercepat Kondensasi menjadi butir air pada suhu yang makin dingin di udara.

Dengan cara sederhana ini diharapkan hujan makin cepat turun, semakin banyak warga yang melakukan ini di masing-masing rumah, ratusan ribu rumah maka akan menciptakan jutaan kubik uap air di Udara.Lakukan ini satu rumah cukup 1 ember air garam, besok Sabtu tgl 12 Sept, jam 10 pagi serempak..

Mari kita sama2 berusaha utk mnghadapi kabut asap yg kian parah ini.. Mohon diteruskan

Lalu benarkah air garam di baskom dapat mempercepat terjadinya hujan ?
Air yang dicampur garam akan memiliki titik didih yang lebih tinggi dibandingkan air biasa (tanpa garam), ini pelajaran fisika SMA. Hal ini dikarenakan larutan garam akan membutuhkan energi lebih besar untuk mencapai tekanan uap yang dibutuhkan untuk mengubah fase air menjadi gas. Dengan kata lain, mencampur air dengan garam di baskom malah akan membuat air lebih sukar menguap.

Selain itu, penbentukan awan hujan (terutama di wilayah tropis) tidak hanya bergantung pada jumlah uap air, tapi juga radiasi matahari dan kondisi atmosfer. Ketika musim kemarau, air lebih sukar menguap dan lebih sukar 'terangkat' ke atmosfer karena energi konvektif yang disebabkan oleh radiasi matahari lebih kecil. Logikanya, kalau air laut yang melimpah di sekitar kita saja susah menguap menjadi awan, apalagi dengan air garam di baskom ?

Kesimpulannya, pesan di atas tadi murni hoax. Dan kalau ada pesan seperti itu sebaiknya jangan disebarkan, karena hanya akan menambah beban saudara-saudara kita di Sumatera dan Kalimantan yang saat ini sedang tertimpa bencana kabut asap.

Dan kenyataannya walaupun pemerintah telah memodifikasi cuaca dilakukan satu bulan lalu, sebanyak 88,9 ton garam telah ditaburkan ke awan di atas Riau guna membuat hujan buatan. Namun, aktivitas itu belum melenyapkan kabut asap di Riau. Padahal, penyiraman dari udara terus dilakukan.

Satelit NOAA pada 27 Maret mendeteksi jumlah titik api (hotspot) di Riau sebanyak 173 titik dan turun menjadi 121 titik pada Jumat 28 Maret 2015 lalu. Jumlah ini meningkat drastis dibandingkan Selasa yang hanya 41 titik dengan konsentrasi di Riau bagian utara dan timur, seperti Dumai, Bengkalis, Rokan Hilir, dan Siak.

Komandan Penerangan Satuan Tugas (Satgas) Penanggulangan Bencana Asap Riau Kolonel (Inf) B Robert, Jumat sore, mengatakan, saat ini satgas masih memiliki persediaan 17,1 ton garam. Namun, sebelum persediaan habis, garam tambahan dipastikan sudah tiba di Pekanbaru. ”Upaya penyemaian terus dilakukan. Fokusnya di daerah yang masih banyak titik api,” ujar Robert di Pos Komando Satgas Penanggulangan Bencana Asap, Pangkalan TNI AU Roesmin Nurjadin, Pekanbaru.

Sementara satgas mendapat tambahan satu helikopter Bell dari Jakarta. Secara keseluruhan ada 10 pesawat yang dilibatkan dalam penanggulangan asap dan kebakaran, termasuk Hercules milik TNI, Cassa, serta helikopter Sikorsky, Kamov, dan Bolco yang bertugas menyiram air dari udara.

Pembakar diburu
Menurut Robert, pihaknya bekerja keras mengatasi kabut asap, menemukan titik api dan memadamkannya, serta memburu pembakar lahan. Pada pemadaman 14-23 Maret, upaya itu berhasil. Titik api yang terdeteksi tinggal 1 titik dan kabut asap hampir lenyap. Namun, beberapa hari ini jumlah titik api naik lagi. Penyebabnya dua faktor, yakni kondisi alam dan perilaku orang yang masih membakar lahan.

Agus Wibowo, Kepala Bidang Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana, mengatakan, hujan yang turun tidak lepas dari menghilangnya siklon Gillian dan aktivitas penaburan garam yang terus dilakukan oleh satgas.

Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Riau Ajun Komisaris Besar Guntur Aryo Tejo mengatakan, sudah ada 18 tersangka kasus pembakaran lahan yang berkasnya dinyatakan lengkap oleh tim jaksa penuntut umum.

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Abetnego Tarigan menyoroti pernyataan Presiden tentang kendali operasi penanganan kebakaran Riau untuk pengerahan tentara dan aparat sebagai operasi militer nonperang. Hal ini dinilai rentan disalahgunakan aparat untuk menggusur dan mengkriminalisasi masyarakat adat. Respons itu akan menambah penderitaan masyarakat.

Koordinator Konservasi Gajah dan Harimau WWF Indonesia Sunarto mengatakan, kebakaran hutan dan lahan telah melukai rasa keadilan masyarakat. Sebuah kondisi yang darurat dan kontradiksi benar-benar telah terjadi disana, sampai kapan kabut asap itu akan segera berlalu, entahlah…

#KabutAsap#PekanBaru
Title Tags Search:
See Also:
Inilah Akibat Jika Terjadi Pelemahan Rupiah Terhadap Dollar - AnekaNews.net
AnekaNews.net - Beberapa waktu yang lalu Pemerintah Indonesia saat ini pernah bilang, Dollar US menguat, Negara malah untung. Menurut saya ini adalah pembodohan publik. Mau tahu mengapa? Silahkan simak uraian di bawa ... Read More »
Beberapa Tafsir Mimpi Aneh Yang Bikin Kamu Malah Tidak Percaya - AnekaNews.net
AnekaNews.net - Mimpi adalah bunganya tidur, ini kata kebanyakan orang lho.
Sebenarnya mimpi bisa terjadi karena kita telalu memikirkan sesuatu hal yang berlebihan dan mimpi juga bisa terjadi karena hal-hal yang ada ... Read More »
Inilah Daftar Kenaikan Gaji Baru PNS 2015 - AnekaNews.net
AnekaNews.net - Pada tanggal 4 Juni 2015, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menandatangani Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2015 tentang Perubahan Ketujuh Belas Atas Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1977. Sepe ... Read More »
Comment: (0)
No Comment.
Add Comment:
Post comment is currently disabled.
Bookmark and Share